Senja disore memerah, tak lagi jingga tak lagi cerah. Merahnya sore pun terasa lebih lama dan tak bergairah. Aku memandang langit disenja itu, hatiku teredupkan ketidakhadirannya sosokmu. Aku hanya berbagi cerita dengan senja karena aku merasa kita bernasib sama, matakupun mulai memerah pedih. Namun kemudian aku tersenyum, aku ingat aku tak akan menangis hanya karena aku rindu. Aku meyakinkan "ah, mataku berair hanya karena angin yang bertiup terlalu kencang". Aku baik-baik saja.
Hanya saja perasaanku yang tak mau bekerjasama, ia mengiang kemana-mana. Terlebih lagi semua itu tentang dia. Sedang apakah dia?Siapa yang bersamanya?Rindu jugakah dia?Apa dia merasa yang sama?Apa semua ini hanya perasaanku saja?Pernahkah dia memikirkanku juga?Entahlah tak semua perasaan bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun aku takkan menuntut, semua angan itu hanya akan kujadikan selimut karena dingin di senja merah itu semakin menusuk. Aku hanya berharap semoga kelak kita bisa menikmati senja bersama, dibawah langit dan tempat yang sama akan lebih baik jika kita berdua membawa cinta. ahh sudahlah semuapun pasti punya takdirnya, dan aku tetap percaya pada jalan-Nya.
Meski aku menyadari saat kita berkata baik-baik saja bukan berarti itu sama sekali tak terjadi apa-apa pada perasaan kita. Begitupun saat kita berkata cukup kuat dan terbiasa menghadapinya, saat kita berkata kuat bukan berarti kita tak merasakan apapun termasuk sedikit rasa kekhawatiran. Kita hanya yakin dengan berbuat begitu kita akan merasa lebih baik dan berhasil menjadi seseorang yang optimis. Tanpa menyadari dengan melakukan itupun kita telah mengenal banyak kepalsuan.
Jumat, 25 Desember 2015
Kamis, 26 Februari 2015
Tak cukup berani
mengagumi dalam diam, dan selalu mendoakan namun tak pernah berani menoleh saat berpapasan.
dia yang melakukannya mungkin cukup kuat. cukup kuat untuk menahan segala perasaan, tanpa menyampaikan bahkan menyebut lembut nama pujaannya dalam sapaan.
diapun harus cukup puas hanya dengan tersenyum dari kejauhan, menikmati lekat dari belakang, memanggil lirih dari batas jendela kaca yang memisahkan.
dia juga pasti sangat akrab dengan ikhlas, syukur dan sabar. karena itulah kekuatan yang diberikan Tuhannya, sebagai sambutan dari semua doanya untuk bertahan.
namun tak jarang dia dihampiri kecemburuan, melihat sang pujaan lebih dekat dengan teman atau bahkan jauh dari genggaman.
tapi syukurlah, dia sudah lebih kuat karena dia yakin memiliki Tuhan yang selalu bersamanya. Maha Mengetahui akan segala inginnya, dan Maha adil untuk mengatur alur hidupnya.
dia amat bisa bahagia, dibalik semua cobaannya dengan semua keceriaan yang dibawanya.yaitu dengan menikmati rezeki dari Tuhannya.
dia sangat percaya seperti bumi yang selalu berputar, roda kehidupanpun demikian. begitu juga dengan sang Maha Adil yang dia miliki.
dia yang melakukannya mungkin cukup kuat. cukup kuat untuk menahan segala perasaan, tanpa menyampaikan bahkan menyebut lembut nama pujaannya dalam sapaan.
diapun harus cukup puas hanya dengan tersenyum dari kejauhan, menikmati lekat dari belakang, memanggil lirih dari batas jendela kaca yang memisahkan.
dia juga pasti sangat akrab dengan ikhlas, syukur dan sabar. karena itulah kekuatan yang diberikan Tuhannya, sebagai sambutan dari semua doanya untuk bertahan.
namun tak jarang dia dihampiri kecemburuan, melihat sang pujaan lebih dekat dengan teman atau bahkan jauh dari genggaman.
tapi syukurlah, dia sudah lebih kuat karena dia yakin memiliki Tuhan yang selalu bersamanya. Maha Mengetahui akan segala inginnya, dan Maha adil untuk mengatur alur hidupnya.
dia amat bisa bahagia, dibalik semua cobaannya dengan semua keceriaan yang dibawanya.yaitu dengan menikmati rezeki dari Tuhannya.
dia sangat percaya seperti bumi yang selalu berputar, roda kehidupanpun demikian. begitu juga dengan sang Maha Adil yang dia miliki.
Rabu, 25 Februari 2015
Lewat jendela kaca
Aku masih di tempat ini. Tempat yang selalu kunaungi untuk
memandangmu. Menit seperti terhipnotis oleh detik, jam yang ada pun menjadi
cepat berlalu.
Ternyata kamu masih sama, meski usiamu telah bertambah kau tetap terlihat
indah. Bersama doa yang selalu kusampaikan pada-Nya namamu tetap ada dalam
rapalanku.
Namun disini, lewat jendela kaca ini aku hanya bisa memandangmu, meski hati ingin merengkuhmu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa memanggilmu dalam hatiku, meski suaraku ingin memanggil lembut namamu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa mendengar senandungmu, meski aku sangat ingin bersenandung bersamamu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa melihat tawamu, meski inginku dapat selalu bersamamu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa menatap langkahmu, meski langkahku begitu ingin mengejarmu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa menikmatimu bersuara, meski aku ingin bercakap cerita
Lewat jendela kaca ini aku mengagumimu dalam diamku,kekaguman yang tak berani kuutarakan padamu. Dalam jarak ini aku menjagamu dalam doaku. Berharap suatu hari nanti kau akan kembali tersenyum padaku. Meredupkan sedikit cahaya terangmu, yang selama ini mengunciku dalam jarak menujumu.
Namun disini, lewat jendela kaca ini aku hanya bisa memandangmu, meski hati ingin merengkuhmu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa memanggilmu dalam hatiku, meski suaraku ingin memanggil lembut namamu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa mendengar senandungmu, meski aku sangat ingin bersenandung bersamamu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa melihat tawamu, meski inginku dapat selalu bersamamu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa menatap langkahmu, meski langkahku begitu ingin mengejarmu
Lewat jendela kaca ini aku hanya bisa menikmatimu bersuara, meski aku ingin bercakap cerita
Lewat jendela kaca ini aku mengagumimu dalam diamku,kekaguman yang tak berani kuutarakan padamu. Dalam jarak ini aku menjagamu dalam doaku. Berharap suatu hari nanti kau akan kembali tersenyum padaku. Meredupkan sedikit cahaya terangmu, yang selama ini mengunciku dalam jarak menujumu.
Entah berapa lama, namun hari ini tiga hari setelah ulang
tahunmu aku masih menunggumu ditemani-Nya dalam doaku. Selamat ulang tahun,
semoga semua doaku untukmu tersampaikan.
untuknya yang kemarin lusa berjarak satu motor dari tempatku...
untuknya yang kemarin lusa berjarak satu motor dari tempatku...
Senin, 23 Februari 2015
Dia yang bercahaya
Aku merasa mencari tanpa tahu apa yang sudah kutemukan
Aku merasa menemukan tanpa tahu apa yang kudapatkan
Aku merasa mendapatkan namun ada sesuatu yang menyakitkan
Saat roda hidup berputar, yang di bawah pun akan naik ke atas dan mereka yang di atas tak selamanya akan melayang
Ada saat kita bisa terbang tinggi, namun ada waktunya pula kita jatuh tersungkur tanpa hati-hati
Aku memiliki doa. Doa yang selalu kuhaturkan pada-Nya, doa yang mungkin hanya aku dan Dia yang tahu karena Dialah sang Maha Mengetahui.
Tentang satu, dua, tiga permasalahan atau mimpi yang mengguncang.
Mimpi di siang hari yang begitu cepat berjalan. Mimpi yang selalu kuharap jadi kenyataan namun sepertinya itu hanya sebatas angan.
Mimpi padanya seseorang yang memiliki cahaya luar biasa. Menyilaukan yang membuatku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan. Tanpa bisa menyentuh ataupun merengkuh. Tatapan teduhnya mungkin itu cukup untuk saat ini.
Aku merasa menemukan tanpa tahu apa yang kudapatkan
Aku merasa mendapatkan namun ada sesuatu yang menyakitkan
Saat roda hidup berputar, yang di bawah pun akan naik ke atas dan mereka yang di atas tak selamanya akan melayang
Ada saat kita bisa terbang tinggi, namun ada waktunya pula kita jatuh tersungkur tanpa hati-hati
Aku memiliki doa. Doa yang selalu kuhaturkan pada-Nya, doa yang mungkin hanya aku dan Dia yang tahu karena Dialah sang Maha Mengetahui.
Tentang satu, dua, tiga permasalahan atau mimpi yang mengguncang.
Mimpi di siang hari yang begitu cepat berjalan. Mimpi yang selalu kuharap jadi kenyataan namun sepertinya itu hanya sebatas angan.
Mimpi padanya seseorang yang memiliki cahaya luar biasa. Menyilaukan yang membuatku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan. Tanpa bisa menyentuh ataupun merengkuh. Tatapan teduhnya mungkin itu cukup untuk saat ini.
Selasa, 21 Oktober 2014
Semalam *mimpi
Aku kembali teringat mimpiku semalam.aku memimpikan kita! Iya kita, aku dan kamu jadi peran utamanya. Aku masih tak menyangka mimpi semalam. semuanya penuh dengan kehangatan. taukah? aku bisa tertawa, tersenyum, dan merasa sedih dengan sendirinya ketika mengingat semua itu. Sungguh.
jika aku teringan kembali akan mimpiku semalam, aku menjadi ingin terus bermimpi. aku lebih menikmati peran yang aku dapatkan dalam drama singkat kita. dibanding apa yang terjadi pada kenyataan kita yang menggantung. Menurutku.
semalam..kita begitu dekat,
semalam..kita selalu bersama,
semalam..kau selalu memberiku kehangatan sikap,
semalam..kau dan aku menjadi kita,
meski sementara, namun sungguh..aku bahagia,
semoga mimpi semalam menjadi nyata..
jika aku teringan kembali akan mimpiku semalam, aku menjadi ingin terus bermimpi. aku lebih menikmati peran yang aku dapatkan dalam drama singkat kita. dibanding apa yang terjadi pada kenyataan kita yang menggantung. Menurutku.
semalam..kita begitu dekat,
semalam..kita selalu bersama,
semalam..kau selalu memberiku kehangatan sikap,
semalam..kau dan aku menjadi kita,
meski sementara, namun sungguh..aku bahagia,
semoga mimpi semalam menjadi nyata..
Selasa, 20 Mei 2014
A Flying Story of Journey of Love
Angin musim bertiup, menghembuskan angin yang
mungkin akan menerbangkan perasaan yang telah rapuh ini. Aku lelah memilikinya,
aku sadar dan menoleh akan semua keadaan yang telah kulalui. Aku tak sepenuhnya
senang, tak seikhlasnya rela,dan tak sejujurnya bahagia melihat seseorang yang
ku kasihi, bersama orang lain. Aku memutuskan pergi. Memutuskan mengakhiri
semua rasa ini, meski banyak kenangan yang masih kusimpan. Aku yakin waktu akan
mebantuku.
Selang waktu berlalu, jam berganti hari, hari berganti
minggu,dan minggu telah berganti bulan,
tak terasa telah lama waktu yang kulalui untuk menutup diri. Ruangan itu mulai
kosong, berdebu, dan aku takut bila itu akan menjadi usang. Akhirnya aku
memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Sedikit demi sedikit sorot cahaya,
dan udara yang segar seolah meniupkan kembali kehidupan pada ruangan itu.
Tatkala seperti pengembara tersesat,yang menemukan
sebuah pondok di tengah hutan. Dia menjadi penghuni ruangan yang telah lama
kosong itu. Kini dia menemaniku, menghiasi setiap hari-hari yang kulalui
menjadi lebih berwarna. Dengan candaan, pertengkaran sekejap aku merasa
lengkap. Hingga dia menyatakan ingin selalu menemaniku dan tetap tinggal
diruangan ini. Seketika aku merasakan rasa senang yang begitu hebat, namun
entah mengapa disisi lain aku juga merasakan keraguan yang begitu besar, apa
karna aku takut dia masih terikat dengn cinta masalalunya?. Aku mengijinkannya
tinggal. Kita berjanji untuk bersama, dan tak akan meninggalkan satu sama lain.
Mungkin ini adalah keputusan terbesar yang pernah ku buat.
Waktu terus berlalu, hari- hari bejalan seperti
biasa. Tak ketinggalan lukisan gelombang dan lika-liku hidup memenuhinya. Kita
melewatinya, butuh kekuatan besar untuk menghadapi semua itu. Ketika berada di
ujung jalan salah satu harus mau memegang tangan agar tak terpisah. Namun hidup
itu tak semudah membalikkan tangan, aku menyadarinya disaat aku memutuskan
untuk pergi berlayar. Aku ingin pergi sendiri dan meninggalkannya, diapun
melespasku. Kepergianku dihantar oleh sedikit kekecewaan, namun aku berjanji
untuk menemukan sesuatu yang indah yang nantinya akan membahagiakan aku dan dia
ketika kembali bersama. Perahuku mulai berlayar namun angin berhembus begitu
kencang menggemakan namanya dalam pikiranku dan gelombang besar menghantam. Gelombang
itu pula yang telah mengombang ambingkanku yang akhirnya mendamparkanku di
sebuah pulau, sendirian. Pulau yang sepi tanpa penghuni. Aku coba mengintari
pulau itu berharap mendapat suatu penyelesaian. Namun sayang bukan
penyelesaian, justru penyesalan yang aku dapatkan.
Sia-sia, aku
tak mendapat apapun dari kepergianku hanya penyesalan yang kubawa pulang. Semua
terjadi karena keegoisanku. Kali ini akankah waktu membantuku untuk kembali?
Akankah jika aku kembali, dia akan menyambutku dengan hangat lagi? Akankah dia
akan berkata ingin menemaniku lagi?Setelah aku pergi meninggalkannya?. Aku tak
yakin, akupun tak menaruh harapan karena keputusan yang kuambil memang salah
besar. Dan juga telah menyakitinya. Aku menyadari, aku tak memerlukan sesuatu
yang berlebihan untuk memiliki hidup yang lebih baik dengannya. Aku rasa cukup
dalm kesederhanaan dalm bersama. Karena aku tau arti dari kebersamaan itulah
yang selama ini kucari. Dengan saling mempercayai, dan kata besar yang telah diucap untuk terus
bersama, rasa cinta, sayang dan kasih yang dulu kita miliki cukup untuk
bertahan dari kata perpisahan.
Tak mempedulikan kemungkinan terburuk yang akan ku
terima, aku kembali. Aku siap jika dia mengusirku, atau bahkan tak ingin
bertemu denganku lagi. Satu yang di benakku sekarang, yaitu untuk kembali
padanya. Kembali terbang bersamanya, jatuh bersamanya, kembali seperti dulu bersamanya.
Kini aku berada di ambang pintu, sedikit cemas menunggunya lama membuka pintu.
Apa dia tak ingin bertemu denganku lagi?mengapa ia mengabaikanku?aku tau, aku
sudah cukup menyadari semua kesalahan. Diasaat aku akan berpaling meninggalkan
pintu itu, dia datang, dia membuka pintu dan berdiri disana. Aku tak menyangka,
namun aku sangat bahagia melihatnya.
Dia membuka pintu, itu berarti dia memaafkanku bukan?bukankah
itu cukup anugrah?mengapa aku tak puas?. “Apa kita tak bisa kembali seperti
dulu?”itu yang mengambang di pikiranku sekarang. Namun apa yang mengambang
dipikiranku saat ini seolah telah terbaca olehnya. Dia meminta maaf dan meminta
waktu untukku menunggu. Diapun berlalu meninggalkanku dengan pintu terbuka. Aku
paham maksudnya, tak mungkin sesuatu yang telah kuubah menjadi menyakitkan
dapat berubah lagi dengan cepat menjadi kebahagiaan yang kuharapkan. Aku pun
tersenyum di ambang pintu ini. Mungkin lebih patut disebut senyum kepedihan,
buliran intan pun menetes dari pelupukku. Segera mungkin aku menghapusnya, aku
tak ingin jika menunggu di ambang pintu ini dengan air mata yang menyelimutiku.
Namun sekejap saja aku baru menghapusnya buliran lain kembali terjatuh.
Perasaan takut kini mengerubungiku. Banyak
argumentasi yang kini berpetualang di benakku. “Apa di dalam sana telah ada
cinta masalalunya?apakah dia telah kembali terjatuh dalam cinta masalalunya?!”
Tapi, dia telah berjanji kembali dan memperbolehkanku masuk ke dalam setelah
aku menunggu untuknya. Tapi, tetap saja aku tak tenang, aku kedinginan, aku
ketakutan dan aku kesepian menunggu dia kembali dengan senyum hangat sembari
meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam.
“Aku tetap akan menunggunya, walaupun hanya dengan
sepercik siraman hangat darinya. Aku kan berusaha bertahan. Dan berperang
dengan bayang cinta masalalunya yang selalu menggoyahkan dan menghantuiku untuk
berhenti menunggunya.”
With love/@intanwe
J
Senin, 29 Juli 2013
CERPEN-
sebenernya saya bingung ini apa?cerpen?atau curcol??
entahlah saya hanya menuangkan saja..
tertarik??ngerasa kesindir???wajib KOMEN! oke ;)
entahlah saya hanya menuangkan saja..
tertarik??ngerasa kesindir???wajib KOMEN! oke ;)
Berawal dari dunia maya, rasa ini
ada. Setitik goresan rasa kecil yang kian lama berubah menjadi tanpa akhir.
Tumbuh bersama harapan, tersayat karena hilang. Seandainya waktu bisa kuulang,
seandainya aku tak berbuat kesalahan, seandainya aku berani jujur. Entahlah
tapi hanya kata seandainya yang bisa kuucapkan. Memang hal itu bisa menjadi
suatu pelajaran, tapi bagaimana bila kita masih terjebak dan belum bisa keluar?
Bukan pelajaran tetapi penyesalan itulah faktanya.
Sungguh
membahagiakan bila semua cerita itu masih ada, namun sekarang hanya untaian
kenangan berharga yang berhasil membuat pikiran tersita. Aku tak tahu sampai
kapan rasa itu bersarang di benakku. Hal itu akan normal terjadi bila kita
pernah bersama dan memiliki ikatan khusus, namun kita belum sampai mengepak
sayap bersama. Kita dekat dan lenyap di pertigaan.
Menatap
kosong harapan mungkin itu yang hanya dapat kulakukan. Menunggu asa kan
menghilangkan segala bayang yang selalu mengiang. Sulit memang, namun ini
paksaan keadaan. “Mengapa?apakah sulit melupakan?” Jika itu yang kalian
tanyakan, “sulit bahkan sangat sulit!”. Terlalu munafik bila aku mengaku telah melupakannya.
Memori itu begitu banyak, hingga setiap jengkal perbuatanku pun bisa
mengingatkanku tentangnya.
Aku
mencoba sebisaku. Setara mengikutkan hati mengalir, berharap akan terus
berjalan hingga mencapai muara yang tepat. Meniupkan setiap percik harapan, menetralkan
rasa yang tersimpan. Tunggu!kenangan, aku akan mengenangnya. Namun hanya
sebagai lintasan angan. Terimakasih atas segalanya, dan maaf aku terjebak.
w/@intanwe
Langganan:
Postingan (Atom)